Unordered List

recent/hot-posts

Post Page Advertisement [Top]

Latest News

Bukan Bakat, Tapi Mental: Faktor Utama yang Menentukan Keberhasilan Anak

 


“Bukan Bakat, Tapi Mental: Faktor Utama yang Menentukan Keberhasilan Anak”

Oleh: Laili Farikhatur Rohma, S.Kep., Ns.,M.M.,M.Pd.

 

Abstrak

Keberhasilan anak dalam belajar dan kehidupan tidak hanya dipengaruhi oleh bakat bawaan, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas karakter, proses latihan, dan minat yang dibangun secara bertahap. Artikel ini menguraikan lima faktor utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan anak, yaitu sikap dasar mental, praktek mendalam, minat, bakat, dan kemampuan. Dengan merangkum temuan berbagai penelitian pendidikan dan psikologi perkembangan, artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh faktor internal yang dapat dibentuk melalui pendidikan yang tepat, bukan oleh bakat bawaan semata. Artikel ini disusun untuk memberikan pemahaman bagi orang tua, pendidik, dan lembaga pengasuhan tentang pentingnya membangun karakter dan kebiasaan belajar sebagai fondasi kesuksesan jangka panjang.

 

Pendahuluan

Keberhasilan anak dalam belajar dan kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau bakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh justru berasal dari kualitas karakter, lingkungan, dan proses pembelajaran yang dijalani anak. Dalam konteks pendidikan modern, penting bagi orang tua, pendidik, dan lembaga pengasuhan untuk memahami secara tepat faktor-faktor apa saja yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perkembangan anak. Artikel ini menguraikan lima faktor utama yang memengaruhi kesuksesan anak, dimulai dari faktor yang paling penting hingga yang memiliki pengaruh relatif lebih kecil.

Pembahasan

1. Kualitas Sikap Dasar Mental (Faktor Paling Penting)

Sikap dasar mental merupakan fondasi yang tidak tergantikan dalam menentukan kesuksesan anak. Sikap mental ini meliputi tanggung jawab, disiplin, ketekunan, rasa ingin tahu, adab yang baik, dan kemampuan mengelola emosi. Anak dengan mental yang baik dapat berkembang pesat meskipun tidak memiliki bakat istimewa.
Berbagai penelitian character education menunjukkan bahwa ketekunan (grit), disiplin, dan kemampuan mengelola diri memiliki korelasi kuat dengan keberhasilan akademik dan non-akademik (Duckworth, 2016).
Sikap mental yang positif membuat anak tidak mudah menyerah, mampu menghadapi kesulitan, serta terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Dalam banyak kasus di lapangan, anak yang memiliki karakter baik dan etos kerja tinggi lebih mampu sukses dibandingkan anak berbakat namun kurang disiplin. Mental yang baik adalah pondasi utama kesuksesan yang tidak dapat digantikan oleh bakat semata.

2. Praktek Mendalam (Deep Practice)

Praktek mendalam adalah latihan yang dilakukan secara konsisten, terarah, dan disertai evaluasi berkala. Konsep ini diperkenalkan oleh Daniel Coyle (2009), yang menyebut bahwa latihan mendalam mampu menciptakan myelin, lapisan saraf yang memperkuat kemampuan seseorang.
Anak yang rajin berlatih akan mengalami peningkatan kemampuan signifikan, bahkan melebihi anak berbakat yang tidak pernah berlatih secara serius. Deep practice melibatkan pengulangan terfokus, analisis kesalahan, dan perbaikan terus-menerus. Para ahli sering menyimpulkan bahwa latihan mengalahkan bakat terutama dalam jangka panjang. Anak yang berlatih secara rutin dan terarah akan mengungguli anak berbakat yang tidak berlatih.

3. Minat (Dapat Dibentuk dan Dibangun)

Minat merupakan tenaga pendorong internal yang membuat anak antusias belajar. Berbeda dari anggapan umum, minat tidak selalu hadir secara alami, tetapi dapat diperkenalkan, dibangun, dan dipupuk melalui lingkungan yang tepat.
Ketika anak tertarik pada suatu bidang, energi belajarnya meningkat dan motivasi intrinsik tumbuh dengan kuat. Penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa minat berperan besar dalam meningkatkan kreativitas, fokus, dan ketahanan belajar (Hidi & Renninger, 2006).
Peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat penting dalam memperkenalkan berbagai pengalaman positif agar minat anak tumbuh. Minat dapat dibangun dan menjadi motor penggerak kesungguhan belajar anak.

4. Bakat (Bukan Penentu Utama)

Bakat memang merupakan potensi bawaan yang dimiliki sebagian anak sejak lahir, tetapi bukan faktor penentu utama dalam keberhasilan.
Tanpa sikap mental yang baik dan latihan mendalam, bakat tidak akan menghasilkan prestasi yang signifikan. Penelitian terhadap atlet, musisi, dan pelajar berprestasi menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mencapai sukses melalui latihan intensif, bukan semata bakat lahiriah (Ericsson, 1993).
Bakat hanya memberi awal yang lebih cepat, tetapi hasil akhir ditentukan oleh kerja keras, karakter, dan konsistensi. Bakat penting tetapi bukan faktor yang menentukan keberhasilan akhir seseorang.

5. Kemampuan (Hasil dari Proses)

Kemampuan merupakan output dari berbagai faktor: sikap mental, latihan, minat, dan bakat. Kemampuan bukan sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang melalui pengalaman belajar dan latihan.
Keterampilan yang tampak pada seorang anak adalah hasil proses panjang yang melibatkan berbagai faktor penguat. Anak yang dibangun sikap mentalnya, dibiasakan berlatih, ditumbuhkan minatnya, serta diarahkan potensinya akan memiliki kemampuan kuat dan berkelanjutan. Kemampuan adalah buah dari proses panjang yang melibatkan karakter, latihan, minat, dan bakat.

Penutup

Keberhasilan anak tidak dapat disederhanakan hanya pada faktor bakat atau kecerdasan semata. Studi pendidikan modern menunjukkan bahwa faktor karakter dan proses belajar memiliki pengaruh jauh lebih besar dibanding bakat bawaan. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik perlu lebih menekankan penguatan sikap mental, pembiasaan latihan, serta pengembangan minat anak. Bila fondasi karakter kuat dan proses belajar dilakukan secara konsisten, kemampuan anak akan berkembang secara optimal meskipun tidak memiliki bakat luar biasa. Dengan demikian, investasi terbaik dalam pendidikan anak adalah membangun karakter dan kebiasaan belajar yang positif.

 

Daftar Pustaka

  • Coyle, D. (2009). The Talent Code: Greatness Isn’t Born. It’s Grown. Bantam Books.
  • Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
  • Ericsson, K. A., Krampe, R. T., & Tesch-Römer, C. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychological Review.
  • Hidi, S., & Renninger, K. A. (2006). The Four-Phase Model of Interest Development. Educational Psychologist.
  • Tough, P. (2012). How Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character. Houghton Mifflin Harcourt.

 

Read more ...

POTRET PEMBINAAN SANTRI LKSA AL LAIL GRESIK

 


AL-QUR’AN SEBAGAI BEKAL HIDUP:

POTRET PEMBINAAN SANTRI LKSA AL LAIL GRESIK

Oleh: Laili Farikhatur Rohma, S.Kep., Ns., M.M., M.Pd.



 

Pendahuluan

Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci bagi umat Islam, tetapi pedoman hidup yang membawa cahaya, petunjuk, dan ketenangan bagi siapa pun yang beriman. Di era modern yang penuh tantangan moral dan sosial, pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Qur’ani menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda.

Menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Al Lail melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Al Lail menghadirkan program pembinaan tahfizh Al-Qur’an bagi anak-anak binaannya. Program ini tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga pembentukan akhlak, disiplin, serta ketenangan jiwa. Harapannya, anak-anak tumbuh sebagai pribadi kuat yang siap menghadapi tantangan hidup dengan iman, karakter, dan keyakinan.

Pembahasan

1.    Tahfizh sebagai Bekal Kehidupan Dunia dan Akhirat

Program tahfizhul Qur’an bagi anak-anak LKSA Al Lail dilaksanakan melalui sistem kepesantrenan PPTQ Al Mubarok Yayasan Al Lail, sehingga pembinaan berjalan secara terarah, terstruktur, dan sesuai standar pesantren tahfizh.

Menghafal Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Para penghafal Al-Qur’an dijanjikan derajat yang tinggi, diberikan mahkota kehormatan bagi orang tuanya, termasuk orang tua asuh atau pendidiknya serta mendapat syafaat pada hari kiamat. Keutamaan inilah yang menjadi landasan mengapa LKSA Al Lail menjadikan tahfizh sebagai pilar utama dalam pembinaan karakter santri binaan.

Program ini tidak sekadar mengejar jumlah juz yang dihafal. Melalui pembinaan intensif di PPTQ Al Mubarok, santri dilatih untuk menumbuhkan disiplin, kesungguhan, dan akhlak Qur’ani. Nilai-nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam keseharian mereka, sehingga Al-Qur’an bukan hanya dihafalkan, tetapi menjadi bekal hidup yang membimbing langkah mereka, menguatkan hati di dunia, dan menjadi penolong di akhirat.

2. Pembinaan Tahfizh yang Terstruktur dan Berjenjang

Program tahfizh di LKSA Al Lail disusun secara sistematis agar santri dapat berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

a. Pembelajaran Tahsin

Santri mempelajari makhraj huruf, ilmu tajwid, dan adab membaca Al-Qur’an sebagai fondasi utama.

b. Setoran Hafalan Harian

Setiap santri diwajibkan menyetor hafalan baru minimal satu halaman per hari, dengan penyesuaian terhadap kemampuan masing-masing.

c. Muraja’ah (Mengulang Hafalan)

Hafalan lama diulang setiap hari agar kuat, tidak mudah lupa, serta meningkat kualitas bacaannya.

d. Tasmi’ Berjenjang

Santri melakukan tasmi’ setelah mencapai target hafalan tertentu. Tahapan tasmi’ meliputi:

a)     1 Juz

b)    5 Juz

c)     10 Juz

d)    15 Juz

e)     20 Juz

f)     25 Juz

g)    30 Juz (khatam tasmi’)

Tasmi’ melatih mental, kepercayaan diri, dan keteguhan hati santri, sekaligus menjadi evaluasi kualitas hafalan mereka.

3. Membangun Karakter dan Kepribadian Qur’ani

LKSA Al Lail menekankan bahwa menghafal Al-Qur’an harus diiringi pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, santri diarahkan untuk:

  1. berakhlak mulia,
  2. disiplin dan bertanggung jawab,
  3. jujur dalam kondisi apa pun,
  4. mampu mengontrol diri,
  5. mencintai ibadah dan kebaikan.

Nilai-nilai Qur’ani diterapkan dalam kehidupan di asrama, interaksi antar-teman, sekolah, serta kegiatan sosial. Dengan demikian, terbentuklah pribadi yang kuat secara spiritual, intelektual, dan emosional.

4. Lingkungan Pembinaan yang Positif dan Penuh Kasih Sayang

Anak-anak binaan LKSA berasal dari latar belakang kehidupan berbeda-beda. Banyak dari mereka telah mengalami tantangan hidup yang berat. Karena itu, terciptanya lingkungan yang aman, mendukung, dan penuh kasih sayang menjadi prioritas.

LKSA Al Lail memastikan bahwa santri:

  1. mendapat bimbingan dari ustadz/ustadzah yang berkompeten,
  2. merasakan perhatian layaknya keluarga,
  3. memiliki rutinitas ibadah harian,
  4. serta tumbuh dalam atmosfer yang memuliakan Al-Qur’an.

Lingkungan yang baik menjadikan proses menghafal lebih nyaman, bermakna, dan membekas dalam hati santri.


Keutamaan Menghafal Al-Qur’an

  1. Ditinggikan derajatnya oleh Allah sesuai kadar bacaan dan hafalannya.
    “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an…” (HR. Muslim)
  2. Mendapat mahkota kehormatan di hari kiamat, yang juga diberikan kepada orang tua/ orang tua asuhnya.

Hadits tentang mahkota kehormatan bagi orang tua penghafal” (HR. Abu Dawud).

  1. Mendapat syafaat dari Al-Qur’an pada hari kiamat.

 “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafaat…” (HR. Muslim)

  1. Termasuk Ahlullah, hamba-hamba pilihan yang dekat dengan Allah.
    “Penghafal Al-Qur’an adalah keluarga dan orang khusus bagi Allah.” (HR. Ibn Majah)
  2. Diberi ketenangan hati dan kemuliaan akhlak di dunia.

 “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub.” (QS. Ar-Ra’d: 28 )

Penutup

Melalui berbagai program pembinaan tahfizhul Qur’an, LKSA Al Lail berupaya membentuk generasi yang beriman kuat, berakhlak mulia, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Harapannya, anak-anak binaan tumbuh menjadi pribadi mandiri, berdaya guna, serta mampu membawa cahaya kebaikan di manapun mereka berada.

Al-Qur’an adalah bekal terbaik yang akan selalu mendampingi mereka. Dengan memuliakan Al-Qur’an, insyaAllah Allah akan memuliakan hidup mereka di dunia dan mengangkat derajat mereka di akhirat.

Read more ...

Hari Sumpah Pemuda, Santri, dan Nilai-Nilai Pancasila

 







Hari Sumpah Pemuda, Santri, dan Nilai-Nilai Pancasila: Meneguhkan Semangat Persatuan dan Kebangsaan

Oleh: Dr. H.C. Adv. H. Thahiruddin, S.E., S.H., M.M., M.H., M.Pd

    Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah tonggak sejarah penting yang menjadi simbol bersatunya para pemuda dari berbagai daerah, suku, bahasa, dan agama. Pada tahun 1928, para pemuda berikrar untuk menjunjung satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa — Indonesia. Ikrar tersebut menjadi dasar kokoh bagi lahirnya semangat nasionalisme yang kemudian mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

    Namun, semangat Sumpah Pemuda bukan hanya milik pemuda pada masa itu. Kaum santri — yang dikenal sebagai generasi religius, berilmu, dan cinta tanah air — juga memiliki kontribusi besar dalam memperkuat persatuan bangsa serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan sesuai dengan Pancasila. Hubungan antara semangat santri dan Sumpah Pemuda sangat erat, sebab keduanya sama-sama berakar pada nilai perjuangan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap tanah air.


Santri dan Spirit Sumpah Pemuda

    Kaum santri memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa. Sejak masa penjajahan, pesantren menjadi pusat pergerakan dan pendidikan karakter bangsa. Melalui pesantren, santri tidak hanya dididik dalam ilmu agama, tetapi juga diajarkan untuk mencintai tanah air dan berjuang demi kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, hingga KH. Zainul Arifin adalah contoh nyata santri yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Semangat Sumpah Pemuda yang menyerukan persatuan sejalan dengan prinsip hidup santri: ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), serta ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Santri meyakini bahwa menjaga persatuan dan perdamaian adalah bagian dari ibadah dan wujud cinta tanah air. Pepatah pesantren yang terkenal, “Hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air sebagian dari iman), menjadi dasar moral yang menuntun santri untuk terus berkontribusi bagi bangsa.


Nilai-Nilai Pancasila dalam Jiwa Santri dan Pemuda

    Nilai-nilai Pancasila sejatinya telah hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Setiap sila Pancasila tercermin dalam ajaran dan sikap santri:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
    Santri diajarkan untuk beriman, bertakwa, dan menghormati perbedaan keyakinan. Prinsip toleransi dan saling menghargai menjadi cerminan nyata sila pertama.

  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
    Di pesantren, santri dilatih untuk berakhlak mulia, menghormati orang lain, dan menolong sesama tanpa membeda-bedakan. Inilah wujud nyata kemanusiaan yang beradab.

  3. Persatuan Indonesia
    Semangat nasionalisme dan cinta tanah air tumbuh kuat dalam jiwa santri. Mereka memandang menjaga persatuan bangsa sebagai bagian dari keimanan dan tanggung jawab moral.

  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
    Tradisi musyawarah sudah menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Santri dibiasakan berdiskusi dan mengambil keputusan bersama secara adil dan bijak.

  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
    Santri hidup sederhana dan terbiasa dengan sikap gotong royong. Mereka meneladani keadilan sosial melalui kepedulian terhadap sesama, terutama kaum lemah dan dhuafa.

Meneguhkan Semangat Kebangsaan di Era Modern

    Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan tantangan zaman, semangat Sumpah Pemuda harus terus dihidupkan. Pemuda dan santri masa kini menghadapi tantangan baru berupa krisis moral, disinformasi, dan melemahnya rasa nasionalisme. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk kembali meneguhkan nilai-nilai Pancasila dan semangat Sumpah Pemuda melalui tindakan nyata:

  • Menjadi agen perdamaian dengan menebarkan nilai toleransi dan menghormati perbedaan.

  • Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun digital.

  • Berinovasi dan berkontribusi dalam bidang pendidikan, sosial, dan teknologi tanpa meninggalkan jati diri kebangsaan.

  • Menolak segala bentuk radikalisme, perpecahan, dan hoaks yang merusak persatuan bangsa.


Penutup

    Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan hanya momentum untuk mengenang sejarah, tetapi juga kesempatan untuk memperbarui komitmen terhadap persatuan dan keutuhan bangsa. Santri dan pemuda Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga api perjuangan para pendahulu agar tidak padam.

    Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, semangat Sumpah Pemuda, dan prinsip keislaman yang rahmatan lil ‘alamin,** santri diharapkan mampu menjadi pelopor kebersamaan, penjaga moral bangsa, serta penggerak kemajuan yang berlandaskan iman dan ilmu.

Mari kita jadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai sumber inspirasi untuk terus berkarya, menjaga persatuan, dan meneguhkan cinta kepada Indonesia.

Santri Hebat, Pemuda Bersatu, Indonesia Maju!

Read more ...

Landasan Pendidikan Spiritual–Integratif: Menumbuhkan Generasi Beriman, Berilmu, dan Beradab

 

Landasan Pendidikan Spiritual–Integratif: Menumbuhkan Generasi Beriman, Berilmu, dan Beradab

Oleh: Laili Frikhatur Rohma, S.Kep., Ns.,M.M., M.Pd.

 

Pendahuluan

Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan revolusi digital, dunia saat ini menghadapi tantangan moral yang semakin kompleks.

Kemajuan teknologi memang membawa kemudahan luar biasa, nformasi tersedia di ujung jari, jarak seakan tak lagi membatasi, dan gaya hidup global menjelma dalam keseharian anak muda.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, tersimpan tantangan yang sangat besar unutk para generasi masa kini,  krisis sunyi yang menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Fenomena dekadensi moral kian nyata:

a.      Banyak generasi muda kehilangan arah hidup karena candu media sosial dan konten instan.

b.     Budaya hedonisme dan individualisme membuat manusia lebih mengejar pengakuan daripada kejujuran.

c.      Nilai-nilai adab, sopan santun, dan empati perlahan tergeser oleh budaya cepat, ringkas, dan serba digital.

d.     Bahkan, pendidikan pun sering terjebak dalam kompetisi angka, ranking, dan sertifikat, meninggalkan ruh pembentukan karakter dan kesadaran spiritual.

Akibatnya, kita melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun kering secara ruhani; pintar secara teknologi, namun miskin empati; dan maju dalam prestasi, tetapi mundur dalam akhlak.

Di sinilah PP. Tahfizhul Qur’an Al Mubarok Al Lail  Foundation hadir , bukan sekadar tempat belajar, tapi ruang pembentukan manusia seutuhnya, manusia yang berpikir dengan akalnya, merasa dengan hatinya, dan hidup dengan nuraninya.

Kami percaya, pendidikan sejati bukan hanya mencetak manusia yang tahu apa dan bagaimana, tetapi juga mengapa , mengapa hidup, belajar, dan berbuat harus berpijak pada nilai-nilai Ilahi.

Karena itu, kami meneguhkan langkah pendidikan dengan landasan Spiritual–Integratif, yakni pendidikan yang menyatukan kekuatan iman, kecerdasan intelektual, dan kematangan moral dalam satu kesatuan yang utuh.

Melalui landasan ini, PP. Tahfizhul Qur’an Al Mubarok Al Lail  Foundation berkomitmen melahirkan generasi yang berilmu dan beradab, melek teknologi namun berjiwa Qur’ani, modern dalam cara berpikir namun kokoh dalam nilai spiritual.

 1. Apa Itu Pendidikan Spiritual–Integratif?

Pendidikan Spiritual–Integratif adalah sistem pendidikan yang tidak memisahkan antara ilmu dunia dan nilai akhirat, antara berpikir dan berdzikir, antara pengetahuan dan kesadaran batin.

Landasan ini berpijak pada keyakinan bahwa:

“Ilmu tanpa iman adalah buta, dan iman tanpa ilmu adalah lumpuh.”

Pendidikan model ini tidak hanya mencetak manusia pandai, tapi membentuk insan yang sadar akan tujuan hidupnya: beribadah dan memberi manfaat bagi sesama.

2. Landasan Naqli: Arah Pendidikan dari Wahyu

Konsep spiritual–integratif sejatinya berakar kuat dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.

 a. Integrasi Ilmu dan Iman

يرفع الله الذىن أمنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات

.     
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Islam memandang iman dan ilmu sebagai dua sayap kemuliaan. Pendidikan spiritual–integratif menjadikan keduanya seimbang — bukan hanya cerdas berpikir, tapi juga lembut hatinya.

b. Keseimbangan Dunia dan Akhirat

ربنا ااتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة وقنا عذاب النار
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Pendidikan bukan hanya mengejar kesuksesan dunia, tapi juga membentuk manusia yang selamat dan bahagia di akhirat.

c. Pembinaan Jiwa dan Akhlak

قدافلح من زكاها وقد خاب من دساها
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Pendidikan sejati adalah proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Maka, setiap pelajaran dan kegiatan di Al Lail diarahkan untuk membangun hati yang bersih.

3. Filosofi Pendidikan Spiritual–Integratif

Landasan ini menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk berpikir, tetapi juga makhluk spiritual dan sosial.

Di PP. Tahfizhul Qur’an Al Mubarok Al Lail  Foundation, proses pendidikan diarahkan untuk:

1.     melalui peningkatan intensitas interaksi dengan Al-Qur’an, seperti menghafal dan mentadabburinya, memperdalam pemahaman terhadap Al-Hadits, serta membiasakan diri dalam ibadah, dzikir, dan berbagai aktivitas spiritual yang menumbuhkan kedekatan dengan Allah SWT

2.     melalui pembelajaran umum yang berimbang, pembekalan life skill yang aplikatif, serta pengalaman sosial yang menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan kemandirian dalam kehidupan bermasyarakat.

3.     Melalui penyatuan keduanya (integrasi nilai) agar santri tidak hanya memahami dan mengetahui nilai-nilai kebaikan secara intelektual, tetapi juga menumbuhkan kecintaan untuk menghayatinya serta membiasakan diri mengamalkannya dalam perilaku, sikap, dan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan semacam ini melahirkan santri yang berjiwa tenang, berpikir tajam, dan berakhlak lembut.

 4. Mengapa Spiritual–Integratif Penting di Era Modern?

Era modern menuntut manusia cepat berpikir, tapi sering lupa berhenti sejenak untuk merenung.

Banyak yang cerdas secara teknologi, namun kering secara hati.

Di sinilah pendidikan spiritual–integratif menjadi jawaban.

Karena:

  • Spiritualitas menjaga arah hidup agar tidak kehilangan makna.
  • Integrasi ilmu memastikan santri siap menghadapi zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.
  • Paduan keduanya menumbuhkan karakter yang tangguh, cerdas, dan berjiwa ihsan.

Santri bukan hanya ahli tahfizh dan akademik, tapi juga calon para pemimpin yang berjiwa lembut, penyayang, mempunyai kepedulian sosial dan berjiwa dakwah.

5. Model Implementasi di PP. Tahfizhul Qur’an Al Mubarok Al Lail  Foundation

Bidang

Penerapan Nilai Spiritual

Integrasi Ilmu dan Amal

Akademik

Pembelajaran diawali dengan niat ibadah dan doa, disertai refleksi makna ayat.

Penggabungan ilmu agama dan umum dalam satu kerangka tauhid.

Tahfizh & Ibadah

Tahfizh bukan sekadar hafalan, tapi pembinaan akhlak Qur’ani.

Santri diajak memahami dan menerapkan nilai ayat dalam kehidupan nyata.

Kegiatan Sosial

Santri dilatih berempati, melayani masyarakat, dan menjaga lingkungan.

Mengintegrasikan nilai dakwah, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sosial.

Kedisiplinan & Adab

Adab lebih diutamakan daripada ilmu, sebagaimana ajaran para ulama.

Pembiasaan sikap hormat, sabar, dan tanggung jawab sebagai karakter dasar.

 

6. Tujuan Akhir Pendidikan Spiritual–Integratif

Pendidikan ini tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi berorientasi pada pembentukan insan kamil, yaitu:

1.     Beriman dan bertakwa kepada Allah.

2.     Berilmu luas dan berpikir kritis.

3.     Berakhlak mulia dan berjiwa sosial tinggi.

4.     Mandiri dan produktif.

5.     Menjadi rahmat bagi sesama (kaftan linnass wa rahmatan lil a’lamiin)

Sebagaimana firman Allah:

وما ارسلناك الا رحمة للعالمي 
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Inilah cita-cita besar Al Lail: melahirkan generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan membawa rahmat.

7. Penutup

Pendidikan Spiritual–Integratif bukan sekadar konsep, tapi jalan hidup pendidikan Islam yang utuh.

Ia menyentuh akal, menghidupkan hati, dan membentuk amal nyata.

“Dari hati yang bersih lahir ilmu yang bermanfaat;
dari ilmu yang benar tumbuh amal yang berkah;
dan dari amal yang ikhlas lahir generasi rabbani yang menebar cahaya.”

Melalui landasan ini, PP. Tahfizhul Qur’an Al Mubarok Al Lail  Foundation bertekad membimbing santri menjadi manusia yang berjiwa Qur’ani dan berdaya saing global, mencintai ilmu, menghidupkan iman, dan menebar kemaslahatan.

 

Read more ...

Iman Kuat, Generasi Hebat: Bentengi Diri dari Bahaya Narkoba

 

Iman Kuat, Generasi Hebat: Bentengi Diri dari Bahaya Narkoba

Laili Farikhaturrohma, S.Kep., Ns., MM., M.Pd

Duta Anti Narkoba dan Edukator Sosial

Abstrak

Penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman serius bagi generasi muda Indonesia, baik dari sisi kesehatan fisik, psikis, sosial, maupun moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran iman dan spiritualitas dalam membentengi generasi muda dari bahaya narkoba. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur keagamaan, hasil pembahasan menunjukkan bahwa iman berperan sebagai benteng moral dan pengendali diri yang efektif dalam mencegah perilaku destruktif. Penguatan spiritualitas sejak dini melalui pendidikan agama, keteladanan keluarga, dan lingkungan sosial yang sehat terbukti menjadi strategi preventif terhadap penyalahgunaan narkoba.

 

Kata Kunci: iman, narkoba, generasi muda, spiritualitas, pendidikan karakter

 

Pendahuluan

 

Generasi muda merupakan aset strategis bangsa dan penentu masa depan negara. Namun, derasnya arus globalisasi, perubahan nilai sosial, dan kemajuan teknologi telah menghadirkan tantangan besar berupa penyalahgunaan narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa jutaan pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa—usia produktif yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan nasional.

 

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menimbulkan dampak fisik dan psikis, tetapi juga mengancam tatanan moral, sosial, dan spiritual masyarakat. Oleh sebab itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum dan medis, melainkan juga perlu diperkuat dengan pendekatan keimanan dan spiritualitas.

           

Kajian Teoretis

1. Konsep Iman dalam Perspektif Islam

Iman dalam Islam bukan sekadar keyakinan, melainkan kekuatan spiritual yang menggerakkan perilaku. Allah Swt. berfirman:

 

 “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 195)

 

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga diri dari hal-hal yang merusak, termasuk narkoba, merupakan kewajiban iman. Seseorang yang beriman akan memiliki kesadaran diri, pengendalian emosi, dan kemampuan menolak perilaku destruktif.

 

Rasulullah juga menegaskan dalam hadisnya:

 

 “Setiap yang memabukkan adalah haram.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa narkoba termasuk dalam kategori khamr modern yang diharamkan karena merusak akal dan moral manusia. Dalam konteks maqāṣid al-syarī‘ah, narkoba bertentangan dengan prinsip menjaga akal (ḥifẓ al-‘aql), menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), dan menjaga keturunan (ḥifẓ al-nasl).

 

2. Narkoba sebagai Ancaman Spiritual dan Sosial

 

Narkoba mengikis fungsi akal dan nurani, dua aspek yang menjadi penopang utama keimanan manusia. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menjerumuskan individu pada kehancuran pribadi, tetapi juga memicu keretakan sosial dan meningkatnya tindak kriminal. Oleh karena itu, pencegahan narkoba harus dilakukan melalui pendekatan multidimensional, dengan iman sebagai basis moral utama.

 

3. Penguatan Spiritualitas Sejak Dini

 

Iman yang kokoh harus dipupuk melalui pendidikan sejak usia dini. Keluarga, sekolah, dan masyarakat berperan penting dalam membangun ketahanan moral anak. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui pembiasaan ibadah dan keteladanan.

2. Mengembangkan pendidikan agama yang kontekstual dan menyentuh aspek afektif.

3. Meningkatkan kegiatan positif di lingkungan sosial, seperti organisasi remaja masjid atau kegiatan sosial-keagamaan.

 

Remaja yang memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan Allah akan lebih mampu menolak ajakan negatif. Mereka memahami bahwa tubuh dan akal merupakan amanah yang harus dijaga, bukan alat pemuas hawa nafsu.

4. Peran Keluarga dan Rehabilitasi Spiritual

Keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Kasih sayang, komunikasi yang terbuka, dan keteladanan orang tua menjadi faktor kunci dalam membentuk kepribadian anak. Anak yang merasakan kasih sayang di rumah tidak akan mencari pelarian di luar.

Bagi mereka yang sudah terjerumus, Islam tetap membuka pintu ampunan. Allah Swt. berfirman:

 “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar [39]: 53

Rehabilitasi yang efektif tidak hanya bersifat medis, tetapi juga spiritual. Pendekatan dzikir, shalat, dan bimbingan rohani dapat membantu penyembuhan batin dan pemulihan jati diri.

 

Pembahasan

 

Iman terbukti menjadi faktor protektif terhadap penyalahgunaan narkoba. Keimanan menumbuhkan kesadaran moral dan kontrol diri, yang berfungsi sebagai sistem pertahanan spiritual. Pendidikan agama dan bimbingan rohani memiliki kontribusi signifikan dalam membangun resiliensi remaja terhadap tekanan sosial dan godaan lingkungan.

 

Dalam konteks sosial, pendekatan berbasis keimanan dapat memperkuat strategi pencegahan nasional terhadap narkoba. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan menciptakan generasi muda yang sehat, beriman, dan produktif.

 

Penutup

 

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya merusak tubuh dan akal, tetapi juga menghancurkan moral dan iman generasi muda. Oleh karena itu, penguatan iman dan spiritualitas harus menjadi fondasi utama dalam strategi pencegahan. Penanaman nilai-nilai keagamaan, peran aktif keluarga, dan pembinaan spiritual di masyarakat dapat menjadi solusi jangka panjang dalam membentengi generasi dari bahaya narkoba.

 

Iman yang kuat melahirkan generasi yang hebat, dan generasi yang beriman tidak akan tunduk pada narkoba.

 

Daftar Pustaka

 

Al-Qur’an al-Karim.

Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Badan Narkotika Nasional (BNN). (2023). Laporan Tahunan Pemberantasan Narkoba Nasional. Jakarta: BNN RI.

Yusuf, M. (2021). Pendidikan Karakter dan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja. Yogyakarta: Deepublish.

Rahardjo, M. (2020). Dimensi Spiritual dalam Rehabilitasi Penyalahguna Narkoba. Jurnal Psikologi Islam, 8(2), 115–126.

 


Read more ...

Umrah Mandiri Resmi Legal: Babak Baru Regulasi Ibadah di Indonesia

 

Oleh: Dr. (H.C.) Adv. Thahiruddin, S.E., S.H., M.M., M.H., M.Pd.


Pengantar


Disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah menjadi tonggak penting dalam sejarah kebijakan keagamaan di Indonesia. Salah satu terobosan besar dalam undang-undang ini adalah pengakuan resmi terhadap pelaksanaan Umrah Mandiri — sebuah bentuk perjalanan ibadah yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menunaikan umrah tanpa melalui biro perjalanan resmi.


Yayasan Allail memandang lahirnya regulasi ini sebagai momentum penting untuk memperkuat literasi hukum dan keagamaan umat. Dengan dasar hukum yang kini jelas, masyarakat diharapkan mampu memahami hak dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan ibadah umrah secara mandiri, sekaligus menjaga nilai-nilai syariat dan tertib administrasi negara.




🕋🕋🕋🕋


Setelah melalui pembahasan panjang antara pemerintah dan DPR RI, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah akhirnya disahkan dan diundangkan. Salah satu pasal penting dalam undang-undang ini, yakni Pasal 86 ayat (1) huruf b, menyebutkan bahwa “Perjalanan Ibadah Umrah dilakukan secara perseorangan, melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah, atau secara mandiri.”


Dengan ketentuan tersebut, negara secara resmi melegalkan Umrah Mandiri sebagai pilihan sah bagi warga negara yang ingin menunaikan ibadah tanpa melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Legalitas ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih fleksibel dalam mengatur waktu, biaya, dan teknis perjalanan ibadah sesuai kemampuan masing-masing.


Namun, penting dipahami bahwa legalitas umrah mandiri bukan berarti tanpa pengawasan. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab untuk menjamin aspek keamanan, keselamatan, dan perlindungan jamaah, terutama dalam hal manasik, administrasi keimigrasian, transportasi, serta kerja sama dengan otoritas Kerajaan Arab Saudi.


Melalui undang-undang baru ini, pemerintah akan menyusun peraturan pelaksana yang mengatur secara teknis tata cara pelaksanaan umrah mandiri, termasuk mekanisme pendaftaran, pelaporan, serta pembinaan jamaah. Hal ini bertujuan agar semangat kemandirian umat tetap berjalan beriringan dengan prinsip perlindungan hukum dan pelayanan publik yang profesional.


Bagi masyarakat, disahkannya regulasi ini merupakan kesempatan besar untuk memperkuat kesadaran hukum dan tanggung jawab spiritual. Pelaksanaan umrah mandiri menuntut kedewasaan, kemandirian administrasi, serta kemampuan memahami syarat-syarat perjalanan ibadah lintas negara. Oleh sebab itu, kesiapan mental, pengetahuan fiqih, dan pemahaman administratif menjadi aspek yang tak kalah penting dibanding sekadar kemudahan teknis.


Yayasan Allail melihat hadirnya UU ini sebagai bentuk kemajuan dalam tata kelola ibadah di Indonesia. Ia mencerminkan semangat negara dalam memberikan ruang kemandirian kepada umat, sekaligus tetap menegaskan komitmen terhadap perlindungan jamaah.✍✍





Penutup


Disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 membawa semangat baru dalam penyelenggaraan ibadah umrah di Indonesia. Umat kini memiliki alternatif pelaksanaan yang lebih terbuka, namun tetap dalam kerangka hukum dan pengawasan negara.


Yayasan Allail mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut kebijakan ini dengan semangat positif, penuh tanggung jawab, dan menjadikannya sebagai sarana memperdalam pemahaman agama serta memperkuat kemandirian umat.


Pelaksanaan umrah mandiri hendaknya tidak sekadar dipandang sebagai kebebasan individu, melainkan juga amanah spiritual yang harus dijalankan dengan niat yang tulus, disiplin, dan sesuai tuntunan syariat Islam.


Semoga langkah baru ini menjadi jalan menuju peningkatan kualitas ibadah umat Islam Indonesia, serta menjadi bukti nyata bahwa regulasi dan syariat dapat berjalan harmonis dalam semangat Islam rahmatan lil ‘alamin.

Read more ...

Bottom Ad [Post Page]